Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Thursday, 22 August 2013

Resensi : The Maze Runner

Judul                        : The Maze Runner
Nama pengarang   : James Dashner
Nama penerbit     : Penerbit Mizan Fantasi, PT. Mizan  Pustaka
Tahun terbit            : November, 2011
Cetakan                   : I
Bahasa                     : Indonesia
Nama penerjemah : Yunita Candra
Jumlah halaman    : 532 halaman
Tebal halaman       : 2,8 cm

THE MAZE RUNNER
(Perjuangan Hidup atau Mati di antara Tempat dan Makhluk-Makhluk Misterius)


James Dashner adalah seorang penulis asal Amerika Serikat yang lahir pada tanggal 26 November 1972 di Austell, Georgia. Tetapi kini ia menetap dan menulis di Rocky Mountains. Buku pertama yang ditulisnya berjudul A Door in the Woods yang terbit pada tanggal 1 Juni 2003. Dia juga telah menerima banyak penghargaan seperti :

             1.     New York State Charlotte Award
             2.     Kentucky Bluegrass Award
             3.     Oregon Readers Choice Award
             4.     New Hampshire Isinglass Teen Read Award
                                  5.     Missouri Truman Readers Award
                                  6.     Illinois Abraham Lincoln Awrd
                                  7.     Tennessee Volunteer State Book Award
                                  8.     Arizona Grand Canyon Reader Award
                                  9.     Georgia Peach Book Award
                                 10. New Jersey Garden State Book Award

Salah satu bukunya yang akan saya bahas kali ini berjudul The Maze Runner yang telah berada pada daftar New York Times Bestseller. Berikut adalah sinopsisnya.
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong Maze yang berkelok-kelok di luar dinding Glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam Glade. Ya, pada saat itulah Griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran didalam Maze.
Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari, mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan Maze selalu berubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.
Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi menutup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati Maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari keluar dengan nyawa sebagai taruhannya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mukjizat datang tiba-tiba?
Dari segi cerita, alur ceritanya sangat menarik dan banyak pesan di dalamnya. Kepercayaan, tidak pantang menyerah, selalu menolong sesame adalah beberapa di antaranya. Tokoh-tokohnya pun memiliki karakter yang kuat. Banyak hal-hal misterius yang harus diungkap oleh para tokohnya di sini, selain jalan untuk keluar dari Glade melalui Maze. Mereka juga harus mengungkap apa yang sedang terjadi pada mereka semua.
Sejak pertama kali saya membaca buku ini, sudah banyak pertanyaan menghampiri pikiran saya. Tanpa sadar saya dibawa masuk untuk merasakan apa yang mereka rasakan, terutama sang tokoh utama, Thomas. Saya bagai diharuskan menjadi seorang detektif yang akan memecahkan semua misterinya. Petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh sang penulis diungkapkan secara bertahap melalui dialog antar tokoh dan petunjuk-petunjuk kecil yang ada di tempat itu. Dashner sangat pintar untuk mengemas cerita fiksi ilmiah ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.
Namun, banyak kejadian mengerikan yang terjadi sehingga tanpa sadar yang membaca buku ini pasti akan mengernyit. Setiap hari mereka diliputi dengan keadaan yang jauh dari kata aman. Bahkan sejak dinding-dinding itu belum terbuka secara permanen. Meski begitu, buku ini tidak akan membuat para pembaca jenuh. Hal ini dikarenakan Dashner selalu menggugah rasa penasaran melalui setiap bab dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sangat senang dengan cerita fiksi ilmiah, buku ini wajib dibaca. Ceritanya sangat menarik dan bagus. Para pembaca akan dibuat berdebar-debar karena banyak kejadian yang mengejutkan di dalamnya. Meskipun tahu akan dibuat terkejut dan akan kecewa karena kajadian yang akan terjadi sangat mengerikan, akan tetapi rasa penasaran para pembaca yang akan menang. Tidak heran, buku ini sekarang sudah dibuatkan filmnya dan akan tayang pada tahun 2014 nanti.

Tuesday, 25 June 2013

Storm by Brigid Kemmerer


Judul                : Storm (Elemental Series)
Nama pengarang   : Brigid Kemmerer
Nama penerbit     : Mizan Fantasi, PT. Mizan Publika
Nama penerjemah  : Tria Barmawi
Tahun terbit       : Mei, 2013
Cetakan            : I
Tebal buku         : 3 cm
Jumlah halaman  : 556
Bahasa             : Indonesia

STORM
(Ketika Cinta Bertemu di Tengah Pertarungan Lama Para Elemental)


Brigid lahir di Omaha, Nebraska, dan tumbuh di beberapa kota yang berbeda di seluruh Amerika Serikat karena pekerjaan orangtuanya. Dia berpindah-pindah dari Albuquerque, New Mexico, sampai ke tepian danau di Cleveland, Ohio, hingga akhirnya menetap di Annapolis, Maryland. Brigid mulai menulis saat SMA, novel pertamanya bercerita tentang empat vampir bersaudara yang menimbulkan kerusuhan di sebuah kota pinggiran. Empat vampir bersaudara itulah yang kemudian menginspirasi para cowok yang muncul dalam seri Elemental. Brigid menulis di mana saja selama ada tempat untuk duduk. Dan, novel Elemental ini diselesaikannya sambil duduk di lantai di basement  hotel tempatnya mengikuti pertemuan penulis.
Saat menulis Storm, Brigid banyak tertimpa musibah yang berhubungan dengan air--ruang bawah tanahnyayang terendam banjir sebanyak tiga kali, atapnya yang beberapa kali bocor, keran air di dapurnya yang bocor, dan beberapa bagian dinding kamar rumahnya yang sempat rusak karena rembesan air. Dan, dalam rangka menulis Spark, Brigid berusaha memastikan kalau semua alarm pemadam kebakarannya aktif karena dia akan menulis tentang cowok yang punya kemampuan mengendalikan api.
Kali ini kita akan membahas mengenai novel Brigid yang berjudul Storm. Back to fantasy novels. Novel ini cukup menarik. Banyak tokoh yang saling berhubungan di sini. Satu hal yang penting, Brigid berhasil membuat pembaca tidak bosan ketika membaca novel ini. Kita aka selalu dibuat penasaran di setiap chapternya. Supaya kamu labih mengerti lagi tentang novel ini, saya akan memberikan sinopsisnya.
Empat bersaudara Merrick memiliki anugerah empat elemen berbeda—air, angin, api,, dan tanah. Mereka selalu berusaha agar tidak mencolok dan tidak menarik perhatian para Pemandu yang setiap waktu siap membawa para pengendali elemen yang dianggap mengancam keselamatan manusia. Namun, kehadiran Tyler dan Seth, musuh keluarga Merrick, memperkeruh keadaan. Mereka terus berusaha memancing amarah Merrick bersaudara dengan alasan pembalasan dendam keluarga.
Merrick bersaudara hamper selalu bisa menghindari segala masalah, hingga saat Becca hadir di tengah pertikaian mereka. Chris yang jatuh cinta pada Becca tidak bisa lagi mengendalikan lagi kekuatannnya setiap kali dirinya harus menyelamatkan Becca. Dan, ketika Chris berusaha mengendalikan kembali kekuatannya, segalanya telah terlambat karena Sang Pemandu telah mencium kekuatan mereka.
Di awal buku, kita akan disuguhi hal-hal misterius yang membuat kita terus menebak-nebak. Siapa dia? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa masalah mereka dengannya? Beberapa pertanyaan tadi mungkin akan terlintas di pikiran kamu. Namun, Brigid tidak terburu-buru untuk memaparkan semuanya sekaligus sehingga kita dapat menikmati perkembangan ceritanya dengan nyaman tanpa harus bingung dengan semua teka-teki di setiap chapternya.  Meski novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga, tapi pergulatan emosi Becca dan Chris begitu nyata. Dan kisah cinta Chris dan Becca begitu unik karena mereka berdiri di tengah-tengah permusuhan dua keluarga yang pada akhirnya mengundang Pemandu untuk turun tangan.
Di sini, kita dapat mengambil pelajaran dari Merrick bersaudara. Solidaritas mereka sangat kuat meski mereka sering berkelahi, terutama dengan kakak tertua Chris, Michael. Michael selalu bersikap seperti ayah untuk adik-adknya, berharap bisa melindungi dan mengawasi mereka. Tapi, salah satu dari si kembar, Gabriel, kesal dengan sikapnya itu. Gabriel lebih pemarah dibanding kembarannya, Nick.  Dan, Chris juga terkadang terpengaruh dengan Gabriel. Mereka ingin Michael menjadi ‘kakaknya’, bukan ‘ayahnya’. Meski begitu, Michael bukanlah mengekang mereka, melainkan menjaga mereka agar tidak seperti dirinya yang pernah kehilngan kendali atas kekuatannya dan menyebabkan beberapa orang tewas. Mungkin saya akan mengutip satu kalimat di film Spiderman karena menurut saya kalimat ini pas dengan cerita di sini : Di mana ada kekuatan besar, maka di situ pun ada tanggung jawab yang besar. Kisah Merrick bersaudara ini patut dicontoh karena seburuk-buruk apapun keluargamu, mereka adalah keluargamu sendiri. Darah dagingmu.
Untuk karakter, saya akan mengambil dua tokoh untuk diambil sisi positifnya. Yang pertama adalah Becca. Becca adalah seorang gadis yang tangguh secara mental maupun fisik. Dia berani dan baik hati. Dia menyelamatkan Chris dari dua orang pemuda yang akan membunuhnya mati-matian meski ia sendiri bisa dibilang tidak mengenal Chris walaupun mereka berada di angkatan yang sama. Untuk kejadian-kejadian berikutnya, ia menjadi sering terancam bahaya dan masa lalunya yang suram bersama sang mantan pacar mulai terkuak. Semua hal itu terjadi semenjak dirinya dekat dengan Chris.
Yang kedua adalah Chris. Dia mungkin adalah pemuda idaman bagi para gadis yang menyukai keromantisan. Cintanya pada Becca begitu tulus. Dia rela mengorbankan apapun, bahkan kesenangan dan nyawanya hanya supaya Becca bahagia dan ‘hidup’. Dia rela menjauhi Becca demi keselamatannya ketika seorang Pemandu mulai mengawasi karena Becca pun ikut ditandai oleh Tyler dan Seth sebagai pengadu. Meski ia menjauh, namun ia tidak dapat untuk tidak mengawasi Becca. Dia selalu menyelamatkan Becca ketika gadis itu dalam bahaya. Hal itu menunjukkan bahwa rasa tanggung jawabnya yang begitu besar. Ia juga melakukannya kepada kakak-kakaknya meskipun tidak sebesar rasanya kepada Becca.
Di sini juga kita mendapatkan pelajaran bagaimana ketika kebohongan akan berakhir dengan hilangnya sebuah kepercayaan yang sudah dibangun dengan kokoh. Dan perlindungan yang ayah Becca berikan pada sang anak tidaklah setepat yang dipikirkannya. Bahkan hal itu membuat Becca hamper meregang nyawa jika tidak ada Chris yang menolongnya.
Kekurangan di buku ini hanyalah pada budaya barat para remaja di daerah Amerika, seperti merokok, percobaan pemerkosaan, pesta sekolah yang sangat bebas, pesta anak muda, perkelahian. Tapi semua itu masih diambang batas wajar karena itulah budaya di sana. Hanya bagaimana cara pembaca menyikapinya.

Novel ini bagus untuk dibaca, terutama bagi pecinta novel fantasi, ketika sedang merasa bosan dan memerlukan suatu cerita yang sedikit berbeda. Cerita di sini memang sedikit berbeda dengan cerita fantasi pada umumnya. Tidak rumit seperti Harry Potter karya J. K. Rowling namun tidak biasa juga. Brigid mampu mengemasnya menjadi sebuah cerita yang pas untuk dibaca di dalam situasi apapun.

Tuesday, 18 June 2013

Dead Sleep




Judul                       : Dead Sleep (Lukisan Kematian)
Nama pengarang  : Greg Iles
Nama penerbit      : Penerbit Bentang, PT. Bentang Pustaka
Tahun terbit           : 2010
Cetakan                  : I
Bahasa                   : Indonesia
Penerjemah           : Reni Indardini dan Cahya Wiratama
Jumlah halaman   : 592 halaman
Tebal buku             : 2,7 cm

DEAD SLEEP

Greg Iles lahir pada 1960 di Stuttgart, Jerman. Dia mendirikan band Frankly Scarlett, bermain gitar untuk Rock Bottom Remainders, penulis sembilan novel terlaris New York Times, termasuk Bloody Memory dan 24 Hours, dan juga seorang penulis skenario. Dia tinggal di Natchez, Mississipi. Karya pertamanya berjudul Sapndau Pheonix yang dipublikasikan pada tahun 1993 dan menjadi novel pertama dari dua belas New York Times Best Sellers. Di tahun 2010, The Devil Punchbowl mendapat posisi pertama di daftar the Times.
Di novelnya yang berjudul Dead Sleep ini, Greg menyuguhkan sebuah cerita thriller yang begitu menakjubkan. Dengan latar belakang tempat yang sama dengan tempat dimana ia dibesarkan, Greg telah memperkenalkan tempat yang sudah begitu ia kenal dengan baik tanpa menghilangkan sense dari cerita itu sendiri. Berikut adalah sinopsisnya.
Tangan itu terjulur lunglai. Matanya mentap kosong, sementara warna kulitnya yang bak pualam justru menambah aroma kematian di sana. Masihkah sang model bernyawa saat dilukis?  Tak ada yang tahu kecuali sang pelukis.
Lukisan itu bukan satu-satunya. Beberapa lukisan serupa lainnya terpajang anggun di ruang koleksi pribadi dan museum, menebarkan kekaguman berbalut misteri. Namun, hanya ada satu orang yang menyadari kengerian sesungguhnya di balik proses pembuatan lukisan. Dia adalah Jordan Glass, seorang fotografer peraih Pulitzer yang hidupnya dibayang-bayangi luka masa lalu.
Kini, dalam sebuah ruangan yang sunyi, Jordan merasakan kebekuan mulai menjalari sekujur tubuhnya. Di hadapannya, seorang perempuan muda tergeletak pucat. Apakah perempuan itu telah mati? Apakah dia juga akan segera menyusulnya?
Sementara berbagai pertanyaan berkejaran dalam benak Jordan, sang pelukis terus mengayunkan kuasnya sembari menikmati kedua korbannya perlahan menyongsong maut. Siapakah pelukis itu? Dan, jantung Jordan nyaris berhenti saat melihat wajah sang pelukis!
Novel ini menyajikan informasi yang sangat lengkap dan mendetail. Mulai dari bidang fotografi, seni lukis, sampai sejarah. Semua berdasarkan fakta. Kemudian, pendalaman karakter Jordan di sini sangat baik sehingga pembaca dapat merasakan apa yang Jordan rasakan. Greg memukau saya dengan kisah akhir yang menegangkan serta sangat di luar dugaan.
Namun, untuk membaca novel ini, pembaca perlu berkonsentrasi penuh karena petunjuk-petunjuk yang disuguhkan secara bertahap cukup membingungkan. Maksud saya, Greg mungkin ingin menguak identitas sang pelukis di akhir cerita dan itu memang benar. Greg terlihat tidak terburu-buru untuk menguak petunjuk-petunjuk yang mengarahkan pembaca untuk mengetahui siapa sang pelukis. Meskipun begitu, bukannya membosankan, pembaca akan dibuat penasaran dengan kisah selanjutnya.
Novel ini menyajikan hal-hal yang sangat bermanfaat. Di samping informasi yang disajikan begitu detail, pembaca juga dapat mengambil pelajaran dari kisah masa lalu Jordan yang begitu memilukan namun indah. Selain itu, pembaca juga diajak untuk berpikir dalam menemukan sang pelukis seperti layaknya seorang detektif. Sensasi itu mungkin jarang dirasakan bagi sebagian pembaca. Novel ini layak dibaca bagi siapa saja yang ingin mendapatkan cerita berkualitas untuk mereka baca.  

Monday, 17 June 2013

The Fault in Our Stars





Judul                       : The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang- Bintang)
Nama pengarang  : John Green (@realjohngreen)
Nama penerbit      : Penerbit Qanita, PT. Mizan Pustaka
Cetakan                  : II
Tahun terbit           : 2013
Bahasa                   : Indonesia
Penerjemah          : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Jumlah halaman  : 424 halaman
Tebal buku            : 2,6 cm



NOVEL BRILIAN BUAH KARYA JOHN GREEN

John Green adalah penulis terlaris New York Times dan pemenang penghargaan , dengan banyak penghargaan antara lain Printz Medal, Printz Honor, dan Edgar Award. Dia telah dua kali menjadi finalis LA Times  Book Prize. Bersama saudara laki-lakinya, Hank, John adalah setengah dari Vlogbrothers (youtube.com/vlogbrothers), salah satu proyek video online terpopuler di dunia.
Kini, di dalam novel fiksinya yang berjudul “The Fault in Our Stars”, ia mencoba membuktikan bahwa cerita khayalan juga dapat bermakna.
Mengidap penyakit kanker saat berusia 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial. Itulah yang dialami Hazel Grace. Penyakitnya itu mengharuskannya memakai selang yang terhubung ke sebuah tabung oksigen setiap saat. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.
Tapi, semenjak seorang cowok bernama Augustus Waters bergabung, Hazel mulai tertarik padanya dan tidak malas lagi untuk menghadiri pertemuan rutin kelompok  penyemangat kanker itu. Bagaimana tidak tertarik, Augustus, cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel pun mendapat pengalaman yang menarik dan tak terlupakan selama berada di Amsterdam di samping kekecawaannya terhadap penulis pujaannya yang ternyata adalah seorang pemabuk dan telah merendahkannya.
Namun, penyakit kanker adalah sebuah granat yang sewaktu-waktu dapat meledak dengan mudahnya. Hal itulah yang terjadi pada Augustus di saat Hazel dan dirinya baru memulai kehidupan baru mereka. Apakah Augustus akan selamat dari kankernya dengan serangkaian pengobatan yang bahkan belum teruji keampuhannya? Atau Hazel harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa memperoleh cinta abadi karena kanker yang diderita Augustus dan dirinya?
Kisah ini tidak hanya mengenai kisah cinta yang terjadi antara Hazel dan Augustus saja. Kita juga bisa mengambil pelajaran yang berharga dari semangat dan perjuangan para penderita kanker dan keluarga mereka (yang bagaimanapun, dorongan semangat mereka sama pentingnya demi kesembuhan atau kehidupan salah satu anggota keluarga mereka), terutama Hazel dan Augustus yang berusaha untuk menciptakan momen terindah mereka meski mereka tahu bahwa kanker bisa saja meledak di saat yang bahkan tidak mereka duga. Para penderita kanker ini memiliki semangat yang abadi meski sebagian anggota tubuh mereka harus hilang akibat kanker yang menggerogotinya.
Di dalam novel ini juga, John banyak menaruh kalimat-kalimat inspiratif dan bisa dibilang kontroversi namun cukup inspirasional. Dia pintar membuat metafora-metafora melalui perkataan beberapa tokoh yang diciptakannya, terutama Augustus Waters. Lelucon-lelucon yang diciptakan pun cerdas. John meletakkan semuanya pada tempatnya. Hal ini membuat kita tidak mudah bosan membacanya. Dengan novel ini, kita dapat mengetahui bahwa kita harus melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan selama kita masih hidup sekalipun hidup yang kita miliki sangat singkat dibandingkan dengan orang-orang lainnya.
Mungkin, di novel ini ada sebuah kelemahan kecil, namun bagi saya, saya tidak melihat kelemahan itu. Saya justru mendapat inspirasi dan semangat dari novel ini karena sejujurnya saya mengalaminya di kehidupan nyata meski yang saya hadapi bukanlah kanker, namun sama-sama mematikan dan belum ada obatnya.
Ditutup dengan kisah yang mengharukan dan sebuah eulogi untuk Hazel yang ditulis oleh sang kekasih sendiri, novel ini sungguh menerangi jiwa bagi pembaca yang membutuhkannya.