Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Tuesday, 14 January 2014

THE SHADOWHUNTER CHRONICLES IS SHINY!





Yang pertama terpikir oleh kamu pasti “Ugh, tebel banget sih ni buku. Males bacanya juga.” Atau mungkin juga “Covernya aja keliatannya dark, pasti serem deh, gak jadi ah.”

Yeah, honestly, maybe that’s people think when they see these books in the bookstore. But not for me. Yang pertama aku lihat di toko buku adalah The Infernal Devices : Clockwork Angel, dengan Will yang mejeng di covernya. Believe me or not, my eyes locked on him. And then, I bought it immediately.

And, benar saja, isinya sangat memuaskan. Begitu juga dengan series selanjutnya yaitu The Mortal Instruments. Cassandra Clare ga henti-hentinya membuat saya berdecak kagum.

Seri ini tidak seperti novel-novel fantasi yang sering kita jumpai dahulu. Why?

1). Complicated. Ingin begini salah, ingin begitu salah. Bagitulah yang dialami para tokoh di dalam buku ini. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kata “sacrifice”. Menyebalkan bukan? Dan, seringkali aku pun merasa berada di dalamnya. This is why I love Cassie (Cassandra Clare), dia bisa membuat pembaca terus duduk manis sambil membaca padahal jiwanya udah ada di dalam buku *grins*.
2). Many surprises. Mungkin jika baca novel fantasi biasa, kita bisa menebak how is the ending of that. But like I said, this is different. Endingnya tidak melulu mutlak “happy ending” or “sad ending”. Ini juga yang akan membuat kamu pasti suka dengan serial ini. Seri ini memberikan pemikiran yang segar kepada pembaca.
3). Dark but tempting. Memang, suasananya lebih banyak menonjolkan sisi kegelapan. Ada shadowhunters alias pemburu bayangan, warlock, vampires, werewolves, demons, bahkan manusia dengan sifatnya yang sadis namun cerdik.  Yeah, mungkin ini kedengarannya “creepy”, tapi jangan khawatir, karena seri ini bakal membuat pembaca penasaran sampai akhir.
4). Karakter setiap tokohnya yang kuat. Ada Magnus si High Warlock of Brooklyn, ada Herondales yang sarcastic, ada Simon dan teman bandnya yang kocak, silent brothers yang banyak jaitan and creepy,  dan masih banyak lagi. Ditambah lagi ada sesuatu yang unik di sini, vampire di siang hari. Kok bisa? Ya itulah bedanya.
5). Pesan tersirat yang mengena. Masalah apa saja yang kita hadapi dengan sahabat, keluarga, atau bahkan kekasih or dalam hal ini seseorang yang kita cintai dan bagaimana kita menyelesaikannya. Setiap keputusan yang kita ambil akan memengaruhi hasilnya. Bagaimana jika kita mencintai dua orang yang berbeda dengan sama besarnya? Bagaimana jika salah satu dari orangtuamu adalah musuh dari orang-orang yang kau cintai? Bagaimana jika orang yang selama ini kau cintai ternyata mencintai orang yang baru dikenalnya? Bagaimana jika seseorang yang seharusnya kau cintai adalah musuhmu? Bagaimana jika orang yang selama ini kau cintai telah membunuh orang lainnya yang juga kau cintai? Memang banyak sekali cinta yang dibahas, tetapi cinta yang dibahas di sini adalah cinta dalam arti yang luas.
6). Smart jokes. Di buku ini juga ada momen-momen yang bisa membuat para pembaca tertawa. Ada yang mudah dimengerti dan membuat kamu tertawa secara spontan, tapi ada juga yang memerlukan kelihaian kamu untuk berpikir, jika kamu mengerti barulah kamu akan tertawa. Tapi jangan khawatir, karena di situlah asiknya.
7). Banyak unsur khas. Rune, seraph, witchlight, dark outfits. Itu baru beberapa stuffs yang sangat khas dari serial ini. Dan kebanyakan pembaca menganggapnya keren.
8). Many beautiful quotes, terutama di trilogy The Infernal Devices. Banyak pembaca yang jatuh cinta karena kutipan-kutipan di serial ini.  

Pada intinya, serial ini merupakan seri yang berkualitas karena bisa membuat pembaca sedih, tegang, tertawa, bahagia, marah. Atau bisa juga sedih dan bahagia di saat yang bersamaan. Hebat bukan?

Serial ini mengajarkan apa artinya sebuah pengorbanan, cinta, keluarga, persahabatan, merelakan seseorang yang kita cintai, dan bisa juga mengubah pandangan kita terhadap musuh atau bahkan teman. Yang menarik dari novel fantasi ini adalah meskipun ini sebuah “fantasi” tetapi di sini juga Cassie menunjukkan betapa hidup itu tidaklah simple. Banyak yang harus dipertimbangkan. Hmm, mungkin kamu masih berpikir “Wah kayaknya pusing kalo baca ini. Mana tebel.” No! Walaupun rumit, tapi seri ini sangatlah menyenangkan. You won’t regret read this! Trust me!

Thursday, 22 August 2013

Resensi : The Maze Runner

Judul                        : The Maze Runner
Nama pengarang   : James Dashner
Nama penerbit     : Penerbit Mizan Fantasi, PT. Mizan  Pustaka
Tahun terbit            : November, 2011
Cetakan                   : I
Bahasa                     : Indonesia
Nama penerjemah : Yunita Candra
Jumlah halaman    : 532 halaman
Tebal halaman       : 2,8 cm

THE MAZE RUNNER
(Perjuangan Hidup atau Mati di antara Tempat dan Makhluk-Makhluk Misterius)


James Dashner adalah seorang penulis asal Amerika Serikat yang lahir pada tanggal 26 November 1972 di Austell, Georgia. Tetapi kini ia menetap dan menulis di Rocky Mountains. Buku pertama yang ditulisnya berjudul A Door in the Woods yang terbit pada tanggal 1 Juni 2003. Dia juga telah menerima banyak penghargaan seperti :

             1.     New York State Charlotte Award
             2.     Kentucky Bluegrass Award
             3.     Oregon Readers Choice Award
             4.     New Hampshire Isinglass Teen Read Award
                                  5.     Missouri Truman Readers Award
                                  6.     Illinois Abraham Lincoln Awrd
                                  7.     Tennessee Volunteer State Book Award
                                  8.     Arizona Grand Canyon Reader Award
                                  9.     Georgia Peach Book Award
                                 10. New Jersey Garden State Book Award

Salah satu bukunya yang akan saya bahas kali ini berjudul The Maze Runner yang telah berada pada daftar New York Times Bestseller. Berikut adalah sinopsisnya.
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong Maze yang berkelok-kelok di luar dinding Glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam Glade. Ya, pada saat itulah Griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran didalam Maze.
Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari, mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan Maze selalu berubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.
Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi menutup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati Maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari keluar dengan nyawa sebagai taruhannya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mukjizat datang tiba-tiba?
Dari segi cerita, alur ceritanya sangat menarik dan banyak pesan di dalamnya. Kepercayaan, tidak pantang menyerah, selalu menolong sesame adalah beberapa di antaranya. Tokoh-tokohnya pun memiliki karakter yang kuat. Banyak hal-hal misterius yang harus diungkap oleh para tokohnya di sini, selain jalan untuk keluar dari Glade melalui Maze. Mereka juga harus mengungkap apa yang sedang terjadi pada mereka semua.
Sejak pertama kali saya membaca buku ini, sudah banyak pertanyaan menghampiri pikiran saya. Tanpa sadar saya dibawa masuk untuk merasakan apa yang mereka rasakan, terutama sang tokoh utama, Thomas. Saya bagai diharuskan menjadi seorang detektif yang akan memecahkan semua misterinya. Petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh sang penulis diungkapkan secara bertahap melalui dialog antar tokoh dan petunjuk-petunjuk kecil yang ada di tempat itu. Dashner sangat pintar untuk mengemas cerita fiksi ilmiah ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.
Namun, banyak kejadian mengerikan yang terjadi sehingga tanpa sadar yang membaca buku ini pasti akan mengernyit. Setiap hari mereka diliputi dengan keadaan yang jauh dari kata aman. Bahkan sejak dinding-dinding itu belum terbuka secara permanen. Meski begitu, buku ini tidak akan membuat para pembaca jenuh. Hal ini dikarenakan Dashner selalu menggugah rasa penasaran melalui setiap bab dalam buku ini.

Bagi pembaca yang sangat senang dengan cerita fiksi ilmiah, buku ini wajib dibaca. Ceritanya sangat menarik dan bagus. Para pembaca akan dibuat berdebar-debar karena banyak kejadian yang mengejutkan di dalamnya. Meskipun tahu akan dibuat terkejut dan akan kecewa karena kajadian yang akan terjadi sangat mengerikan, akan tetapi rasa penasaran para pembaca yang akan menang. Tidak heran, buku ini sekarang sudah dibuatkan filmnya dan akan tayang pada tahun 2014 nanti.

Tuesday, 25 June 2013

Storm by Brigid Kemmerer


Judul                : Storm (Elemental Series)
Nama pengarang   : Brigid Kemmerer
Nama penerbit     : Mizan Fantasi, PT. Mizan Publika
Nama penerjemah  : Tria Barmawi
Tahun terbit       : Mei, 2013
Cetakan            : I
Tebal buku         : 3 cm
Jumlah halaman  : 556
Bahasa             : Indonesia

STORM
(Ketika Cinta Bertemu di Tengah Pertarungan Lama Para Elemental)


Brigid lahir di Omaha, Nebraska, dan tumbuh di beberapa kota yang berbeda di seluruh Amerika Serikat karena pekerjaan orangtuanya. Dia berpindah-pindah dari Albuquerque, New Mexico, sampai ke tepian danau di Cleveland, Ohio, hingga akhirnya menetap di Annapolis, Maryland. Brigid mulai menulis saat SMA, novel pertamanya bercerita tentang empat vampir bersaudara yang menimbulkan kerusuhan di sebuah kota pinggiran. Empat vampir bersaudara itulah yang kemudian menginspirasi para cowok yang muncul dalam seri Elemental. Brigid menulis di mana saja selama ada tempat untuk duduk. Dan, novel Elemental ini diselesaikannya sambil duduk di lantai di basement  hotel tempatnya mengikuti pertemuan penulis.
Saat menulis Storm, Brigid banyak tertimpa musibah yang berhubungan dengan air--ruang bawah tanahnyayang terendam banjir sebanyak tiga kali, atapnya yang beberapa kali bocor, keran air di dapurnya yang bocor, dan beberapa bagian dinding kamar rumahnya yang sempat rusak karena rembesan air. Dan, dalam rangka menulis Spark, Brigid berusaha memastikan kalau semua alarm pemadam kebakarannya aktif karena dia akan menulis tentang cowok yang punya kemampuan mengendalikan api.
Kali ini kita akan membahas mengenai novel Brigid yang berjudul Storm. Back to fantasy novels. Novel ini cukup menarik. Banyak tokoh yang saling berhubungan di sini. Satu hal yang penting, Brigid berhasil membuat pembaca tidak bosan ketika membaca novel ini. Kita aka selalu dibuat penasaran di setiap chapternya. Supaya kamu labih mengerti lagi tentang novel ini, saya akan memberikan sinopsisnya.
Empat bersaudara Merrick memiliki anugerah empat elemen berbeda—air, angin, api,, dan tanah. Mereka selalu berusaha agar tidak mencolok dan tidak menarik perhatian para Pemandu yang setiap waktu siap membawa para pengendali elemen yang dianggap mengancam keselamatan manusia. Namun, kehadiran Tyler dan Seth, musuh keluarga Merrick, memperkeruh keadaan. Mereka terus berusaha memancing amarah Merrick bersaudara dengan alasan pembalasan dendam keluarga.
Merrick bersaudara hamper selalu bisa menghindari segala masalah, hingga saat Becca hadir di tengah pertikaian mereka. Chris yang jatuh cinta pada Becca tidak bisa lagi mengendalikan lagi kekuatannnya setiap kali dirinya harus menyelamatkan Becca. Dan, ketika Chris berusaha mengendalikan kembali kekuatannya, segalanya telah terlambat karena Sang Pemandu telah mencium kekuatan mereka.
Di awal buku, kita akan disuguhi hal-hal misterius yang membuat kita terus menebak-nebak. Siapa dia? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa masalah mereka dengannya? Beberapa pertanyaan tadi mungkin akan terlintas di pikiran kamu. Namun, Brigid tidak terburu-buru untuk memaparkan semuanya sekaligus sehingga kita dapat menikmati perkembangan ceritanya dengan nyaman tanpa harus bingung dengan semua teka-teki di setiap chapternya.  Meski novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga, tapi pergulatan emosi Becca dan Chris begitu nyata. Dan kisah cinta Chris dan Becca begitu unik karena mereka berdiri di tengah-tengah permusuhan dua keluarga yang pada akhirnya mengundang Pemandu untuk turun tangan.
Di sini, kita dapat mengambil pelajaran dari Merrick bersaudara. Solidaritas mereka sangat kuat meski mereka sering berkelahi, terutama dengan kakak tertua Chris, Michael. Michael selalu bersikap seperti ayah untuk adik-adknya, berharap bisa melindungi dan mengawasi mereka. Tapi, salah satu dari si kembar, Gabriel, kesal dengan sikapnya itu. Gabriel lebih pemarah dibanding kembarannya, Nick.  Dan, Chris juga terkadang terpengaruh dengan Gabriel. Mereka ingin Michael menjadi ‘kakaknya’, bukan ‘ayahnya’. Meski begitu, Michael bukanlah mengekang mereka, melainkan menjaga mereka agar tidak seperti dirinya yang pernah kehilngan kendali atas kekuatannya dan menyebabkan beberapa orang tewas. Mungkin saya akan mengutip satu kalimat di film Spiderman karena menurut saya kalimat ini pas dengan cerita di sini : Di mana ada kekuatan besar, maka di situ pun ada tanggung jawab yang besar. Kisah Merrick bersaudara ini patut dicontoh karena seburuk-buruk apapun keluargamu, mereka adalah keluargamu sendiri. Darah dagingmu.
Untuk karakter, saya akan mengambil dua tokoh untuk diambil sisi positifnya. Yang pertama adalah Becca. Becca adalah seorang gadis yang tangguh secara mental maupun fisik. Dia berani dan baik hati. Dia menyelamatkan Chris dari dua orang pemuda yang akan membunuhnya mati-matian meski ia sendiri bisa dibilang tidak mengenal Chris walaupun mereka berada di angkatan yang sama. Untuk kejadian-kejadian berikutnya, ia menjadi sering terancam bahaya dan masa lalunya yang suram bersama sang mantan pacar mulai terkuak. Semua hal itu terjadi semenjak dirinya dekat dengan Chris.
Yang kedua adalah Chris. Dia mungkin adalah pemuda idaman bagi para gadis yang menyukai keromantisan. Cintanya pada Becca begitu tulus. Dia rela mengorbankan apapun, bahkan kesenangan dan nyawanya hanya supaya Becca bahagia dan ‘hidup’. Dia rela menjauhi Becca demi keselamatannya ketika seorang Pemandu mulai mengawasi karena Becca pun ikut ditandai oleh Tyler dan Seth sebagai pengadu. Meski ia menjauh, namun ia tidak dapat untuk tidak mengawasi Becca. Dia selalu menyelamatkan Becca ketika gadis itu dalam bahaya. Hal itu menunjukkan bahwa rasa tanggung jawabnya yang begitu besar. Ia juga melakukannya kepada kakak-kakaknya meskipun tidak sebesar rasanya kepada Becca.
Di sini juga kita mendapatkan pelajaran bagaimana ketika kebohongan akan berakhir dengan hilangnya sebuah kepercayaan yang sudah dibangun dengan kokoh. Dan perlindungan yang ayah Becca berikan pada sang anak tidaklah setepat yang dipikirkannya. Bahkan hal itu membuat Becca hamper meregang nyawa jika tidak ada Chris yang menolongnya.
Kekurangan di buku ini hanyalah pada budaya barat para remaja di daerah Amerika, seperti merokok, percobaan pemerkosaan, pesta sekolah yang sangat bebas, pesta anak muda, perkelahian. Tapi semua itu masih diambang batas wajar karena itulah budaya di sana. Hanya bagaimana cara pembaca menyikapinya.

Novel ini bagus untuk dibaca, terutama bagi pecinta novel fantasi, ketika sedang merasa bosan dan memerlukan suatu cerita yang sedikit berbeda. Cerita di sini memang sedikit berbeda dengan cerita fantasi pada umumnya. Tidak rumit seperti Harry Potter karya J. K. Rowling namun tidak biasa juga. Brigid mampu mengemasnya menjadi sebuah cerita yang pas untuk dibaca di dalam situasi apapun.

Wednesday, 19 June 2013

It was then, I felt it.
Darkness overcame,
and no light seeped through.
All sound was drowned out, 
all hell was let in.
Gasping,
I searched for air. 
But that too had been tainted.
Lungs crumbling in, 
thuds coming fewer, 
poison pulsed heavily in mind. 
I said my goodbyes, 
Hands wavering in the air,
fingers clutching at nothing.
Nothing to hold, nothing to grab. 
I let go.
So then I went.  
Silently floating, drifting nowhere.
My soul hopelessly quiet,
hopelessly dead.


By Augustus Waters
June 1, 2013 at 10:58 pm

Thursday, 13 June 2013

STEPHEN HERONDALE’S LETTER TO JACE

“To my son,
If you are reading this letter, then I am dead.
I expect to die, if not today, then soon. I expect that Valentine will kill me. For all his talk of loving me, for all his desire for a right-hand man, he knows that I have doubts. And he is a man who cannot abide doubt.
I do not know how you will be brought up. I do not know what they will tell you about me. I do not even know who will give you this letter. I entrust it to Amatis, but I cannot see what the future holds. All I know is that this is my chance to give you an accounting of a man you may well hate.
There are three thongs you must know about me. The first is that I have been a coward. Throughout my life I have made the wrong decisions, because they were easy, because they were self-serving, because I was afraid.
At first I believed in Valentine’s cause. I turned from my family and to the Circle because I fancied myself better than Downworlders and the Clave and my suffocating parents. My anger against them was a tool Valentine bent to his will as he bent and changed so many of us. When he drove Lucian away I did not question it but gladly took his place for my own. When he demanded I leave Amatis, the women I love, and marry Celine, a girl I did not know, I did as he asked, to my everlasting shame.
I cannot imagine what you might be thinking now, knowing that the girl I speak of was your mother. The second thing you must know is this. Do not blame Celine for any of this, whatever you do. It was not her fault, but mine. Your mother is not an innocent from a family that brutalized her. She wanted only kindness, to feel save and loved. And though my heart had been given already, I loved her, in my fashion, just as in my heart, I was faithful to Amatis. Non sum quails eram bonae sub regno Cynarae. I wonder if you love Latin as I do, and poetry. I wonder who has taught you.
The third and hardest thing you must know is that I was prepared to hate you. The son of myself and the child-bride I barely knew, you seemed to be the culmination of all the wrong decisions I had made, all the small compromises that led to my dissolution. Yet as you grew inside my mind, as you grew in the world, a blameless innocent, I began to realize that I did not hate you. It is the nature of parents to see their own image in their children, and it was myself I hated, not you.
For there is only one thing I want from you, my son – one thing from you, and of you. I want you to be a better man than I was. Let no one else tell you who you are or should be. Love where you wish to. Take freedom as your right.
I don’t ask that you save the world, my boy, my child, the only child I will ever have. I ask only that you be happy.

Stephen  

Monday, 18 February 2013

BEAUTIFUL CREATURES




Baru selesai baca bukunya, pikiranku ga bisa lepas. Selalu terbayang Ethan dan Lena. Kisah cinta mereka sungguh mengharukan. Tapi sayangnya, di Indonesia belum ada kabar sama sekali. Mudah-mudahan aja ditayangin. Jadi ingin baca kelanjutannya, Beautiful Darkness. Dan sekali lagi, di toko buku sepertinya ga ada. Sedihnya nasibku u.u

Di filmnya, Ethan Wate diperankan oleh Alden Ehrenreich. Ga sabar ingin nonton filmnya. Still waiting Casters !!