THE ODYSSEY
Karya terbaru Christopher Nolan yang berjudul "The Odyssey" ini didasarkan pada sebuah puisi epik karya penyair Yunani kuno Homer dengan judul yang sama. Untuk menggarap film ini, ia mempelajari semua terjemahan Odyssey dan menghadirkan sebuah interpretasi yang lebih realistis terhadap mitologi Yunani.
Film ini dibintangi oleh para aktor dan aktris yang namanya sudah tidak asing kita dengar, seperti Matt Damon sebagai Raja Odysseus, Tom Holland sebagai Telemachus, Anne Hathaway sebagai Penelope, Robert Pattinson sebagai Antinous, Zendaya sebagai Athena, dan Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy juga Clytemnestra. Selain itu, ada Elliot Page sebagai Sinon, Samantha Morton sebagai Circe, Benny Safdie sebagai Agamemnon, dan Charlize Theron sebagai Calypso yang memegang peranan penting dalam perjalanan pulang Odysseus menuju Ithaca setelah Perang Troya. Menariknya di sini adalah mereka semua berbicara dengan Aksen Amerika.
Meski "The Odyssey" berdurasi hampir 3 jam lamanya, namun penonton tidak dibuat bosan saat menonton film ini. Nolan berhasil menyajikan film dengan memanfaatkan teknologi IMAX 70 mm dan efek visual realistik guna menciptakan pengalaman sinematik maksimal. Narasi yang kompleks dan produksi berskala besar yang telah ia lakukan ini pun patut diacungi jempol. Produksi film "The Odyssey" melibatkan ribuan kru, penggunaan kapal buatan khusus, serta set raksasa yang menggambarkan lanskap Yunani kuno dan samudra luas.
Selain itu, Nolan tidak menghilangkan sosok dewa/dewi seperti pada film-film adaptasi mitologi Yunani modern serupa. Ia berusaha mendekati unsur-unsur mitologis dengan cara yang lebih realistis. Ia menyebutkan bahwa para dewa mungkin tidak muncul dalam bentuk fisik, tapi manusia bisa melihat tindakan-tindakan para dewa itu sendiri, yaitu dirasakan melalui alam, bencana, dan takdir itu sendiri.
-------------------------------- Spoiler-Alarm --------------------------------
Kisah ini dimulai dengan sebuah narasi yang menggambarkan Sang Raja Ithaca beserta pasukannya yang menghilang dan belum kembali setelah Perang Troya yang memakan waktu kurang lebihv 10 tahun telah berakhir. Di sisi lain, Odysseus, Raja Ithaca, beserta seluruh prajuritnya ingin kembali pulang. Ia merindukan istrinya, Penelope, dan putranya, Telemachus. Namun, mereka harus tersesat selama 10 tahun lamanya di perjalanan.
Perjalanan mereka menuju Ithaca dipenuhi rintangan yang hampir mustahil dilalui. Pertama, mereka harus menghadapi Cyclops (Polyphemus), raksasa bermata satu yang terkenal dalam mitologi Yunani. Mereka terjebak di dalam gua bersama Cyclops. Akibatnya, Odysseus harus kehilangan beberapa anak buahnya karena dimakan oleh Cyclops. Untuk keluar dari gua, ia pun membuat rencana cerdik: mereka menusuk mata Cyclops dengan batang kayu panas. Lalu saat Cyclops membuka pintu gua, mereka pun berhasil menyelinap keluar bersama domba-domba gembalaan Cyclops. Meskipun begitu, tindakan mereka ini memicu kemarahan Dewa Poseidon karena Polyphemus merupakan putranya dan tindakan tidak perlu Odyssseus di akhir terhadap Polyphemus yaitu dengan memanahnya, membuat segalanya dari buruk menjadi jauh lebih buruk.
Di petualangan berikutnya, mereka pun terdampar di Aeaea akibat amukan Poseidon. Di sana, Odysseus dan anak buahnya segera menyadari bahwa mereka berada di tengah-tengah para raksasa Laestrygonian dan semua pohon di hutan tersebut bergerak. Para prajurit raksasa itu membunuh sebagian besar anak buah Odysseus dan dalam prosesnya menghancurkan dua dari tiga kapal yang membentuk armada kecilnya. Hanya dirinya dan segelintir orang yang selamat, termasuk tangan kanannya, Eurylochus.
Selanjutnya, mereka mencari tempat perlindungan dan makanan di sepanjang pantai karena persediaan makanan telah habis. Sebagian besar awak kapal meninggalkan Odysseus yang tengah berburu dengan busurnya, sedangkan mereka bertemu dengan Circe, seorang penyihir berbahaya, yang mengundang mereka masuk ke rumahnya dan memberi mereka makan. Namun, Circe mengubah mereka semua menjadi babi. Di tempat lain, Odysseus berhasil memanah seekor rusa. Namun, saat ia menghampirinya, rusa yang menjadi buruannya bukanlah rusa, melainkan manusia tanpa busana. Ia menyadari ada yang tidak beres dan segera menghampiri para anak buahnya. Saat Odysseus sampai di rumah Circe, ia melihat kumpulan babi yang sedang diberi makan oleh Circe. Lalu, Odysseus pun diundang masuk dan diajak makan olehnya. Odysseus menyadari tipu dayanya dan meyakinkannya untuk mengembalikan wujud para awak kapalnya agar mereka dapat pulang ke rumah. Berkat kemampuan meramalnya, Circe memperingatkan Odysseus bahwa ia tidak akan bisa pulang ke Ithaca tanpa terlebih dahulu pergi ke "Dunia Bawah" (The Underworld).
Di tepi "Dunia Bawah", Odysseus dan anak buahnya bertemu dengan arwah beberapa tokoh yang dikenalnya setelah mengorbankan darah dua ekor domba. Mereka adalah Agamemnon, Sinon, dan nabi buta Tiresias. Masing - masing dari mereka memberi peringatan dan nasihat kepada Odysseus. Sinon mengungkapkan bagaimana ia telah dimanipulasi oleh Antinous saat pengundian sebelum Perang Troya sehingga ia yang harus pergi ke medan perang. Agamemnon menyarankan Odysseus untuk pulang dengan menyamar karena ia telah mengalami pengalaman buruk di kerajaannya sendiri. Ia yang telah terlebih dahulu pulang ke kerajaannya, dibunuh oleh istrinya, Clytemnestra. Mengingat ia pun memang dikenal sebagai pemimpin yang ambisius dan brutal karena ia pernah membunuh putri mereka sendiri demi kemenangan Perang Troya. Sedangkan Tiresias memperingatkannya bahwa ia akan menjadi satu-satunya anggota awaknya berhasil pulang ke rumah.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju pusaran air Charybdis. Namun, sebelum itu, mereka harus bertemu dengan para Siren yang nyanyiannya terkenal menyiksa dan memikat para pria menuju kehancuran. Oleh karena itu, Odysseus memerintahkan kepada seluruh awak kapalnya untuk menutup semua telinga mereka dengan lilin dan mengikat Odysseus pada tiang kapal sebelum mereka melewati para Siren. Eurylochus menyaksikan penderitaan Odysseus saat mereka melintasi para Siren karena hanya dia yang bisa mendengar nyanyian mereka. Tapi beruntung, ia sebelumnya telah diikat pada tiang kapal. Namun sayangnya, ada satu awak kapal yang penasaran dan membuka lilin pada telinganya. Alhasil, ia terpikat dan berenang menuju para Siren. Setelah mereka menjauhi para Siren, mereka dihadapkan pada pilihan pusaran air Charybdis dan sebuah ngarai. Odysseus memilih berputar mengelilingi pusaran air tanpa memberitahu alasannya sedangkan Eurylochus memilih ngarai. Hasilnya, mereka pun memilih memasuki ngarai. Namun, tanpa disangka, tiba-tiba monster Scylla memakan 6 anak buah Odysseus.
Selanjutnya, mereka berlabuh di Pulau Thrinacia, dimana mereka menjumpai kawanan sapi milik dewa matahari Apollo saat terjebak di pulau tersebut akibat angin kencang. Sekali lagi, mereka mengabaikan perkataan Odysseus untuk tidak mengganggu sapi-sapi itu (yang menurut Tiresias akan berakibat pada kematian mereka) dan karena kelaparan yang luar biasa, mereka membunuh dan memakan salah satu sapi jantan tersebut. Angin mereda cukup lama bagi mereka untuk meninggalkan Thrinacia, akan tetapi, selama di perjalanan, sisa anak buah Odysseus dengan cepat tewas akibat badai dahsyat yang diciptakan oleh gabungan kekuatan Apollo, Zeus, dan Poseidon.
Odysseus nyaris tewas dalam kecelakaan kapal itu dan terdampar di Pantai Ogygia, pulau tempat nimfa Calypso terisolasi. Dalam kesepiannya, ia menahan Odysseus di pulau itu selama 7 tahun lamanya dengan bantuan bunga lotus yang ia berikan kepadanya. Bunga itu memaksa Odysseus untuk melupakan masa lalu dan keinginannya untuk pulang ke rumah saat ia memakannya. Setelah tujuh tahun berlalu, Calypso merasa iba pada Odysseus saat ia menanyakan masa lalunya sendiri dan Calypso menyadari keinginan Odysseus untuk kembali ke rumah menemui keluarganya.
Selama periode ketika Calypso menghentikan Odysseus dari memakan bunga lotus itulah ia mulai menceritakan seluruh perjalanannya. Saat ia dan pasukannya berada di dalam "Kuda Troya" sebagai bagian dari rencana cerdik untuk mengelabui musuh sehingga mereka dapat menyerang Kota Troya di malam hari. Lalu, peristiwa-peristiwa kepulangannya hingga ia sampai di Pantai Ogygia. Semua peristiwa tersebut, penonton melihatnya dalam kilas balik yang panjang. Setelah Odysseus mengingat sepenuhnya siapa dirinya, apa yang telah dilakukannya, dan mengapa ia ingin pulang, Calypso mengizinkannya membangun rakit dari puing-puing kapal yang menepikannya di sana tujuh tahun sebelumnya. Odysseus berlayar dengan rakit tersebut dan menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak para dewa setelah menentang mereka pada perjalanan sebelumnya, hingga akhirnya bisa berlabuh di Ithaca.
Meskipun diselingi dengan berbagai peristiwa lain dalam perjalanan Odysseus, seluruh alur cerita seputar Penelope, Telemachus, dan para pelamar berlangsung dalam waktu satu minggu serta bertepatan dengan akhir perjalanan tersebut. Telemachus berangkat ke Sparta untuk berkonsultasi dengan Menelaus mengenai keberadaan ayahnya. Namun, selama ia pergi, Odysseus telah berlabuh di pulau itu. Ia mengetahui dari Eumaeus, budak setia Odysseus, bahwa Telemachus berada dalam bahaya, karena para pembunuh bayaran dari kelompok para pelamar Antinous berencana membunuhnya saat ia dalam perjalanan pulang. Odysseus, yang menyamar sebagai pengemis dan veteran perang Troya, membantu putranya lolos dari maut dan kembali ke rumah.
Odysseus tiba di rumah bersama Telemachus dan Eumaeus. Telemachus baru mengenali bahwa itu adalah ayahnya setelah Argos, anjing pemburu setia Odysseus, mengenali tuannya. Hal itu memicu tantangan yang diajukan Penelope di akhir kisah "The Odyssey" serta pengakuan Odysseus di akhir bahwa ia memang telah kembali untuk merebut kembali rumahnya setelah 20 tahun.
Ia membunuh sebagian besar para pelamar, termasuk Antinous. Sementara, para penyintas berlutut di hadapan raja yang sah dan ia pun bersatu kembali dengan istrinya. Mereka menyerahkan tahtanya kepada Telemachus dan mewujudkan impian mereka untuk berlayar ke barat bersama-sama, meskipun kali ini dengan tujuan eksplisit agar Odysseus dapat menghormati seluruh awak kapal dan teman-temannya yang gugur yang tidak pernah ia berikan upacara pemakaman yang layak.
Sosok Athena kerap kali muncul di samping Odysseus di setiap kesempatan. Alih-alih benar-benar hadir sebagai dewi, Athena di sini justru menjadi simbol rasa bersalah yang terus menghantui Odysseus setelah Perang Troya. Athena juga merupakan cerminan batin Odysseus. Tanpa Athena, Odysseus sudah lama binasa.
---------------------------------------------------------------------------------
Film "The Odyssey" ini memang memadatkan beberapa perhentian dalam perjalanan Odysseus dari puisi epik asli karya Homer demi kebutuhan film dan jelas itu keputusan yang tepat. Secara keseluruhan, saya memberi nilai 9,8 dari 10 untuk film ini mengingat saya belum membaca puisi aslinya. Saya murni memberikan nilai berdasarkan hasil tontonan. Review ini saya dapatkan dari situs ‘The Odyssey’ Timeline Explained & All Events In Chronological Order , Nolan Jelaskan Arti Kehadiran Athena Dalam The Odyssey! - Greenscene, dan berbagai sumber lainnya.















0 comments:
Post a Comment